Pernah melihat sebuah iklan yang sebenarnya sederhana, tetapi bisa membuat kita ikut tersenyum dan relate dengan pesan yang disampaikan? Menariknya, kita mungkin tidak langsung mengingat nama produk yang digunakan. Namun, cerita di baliknya justru melekat lebih lama di ingatan. Fenomena tersebut bukan hanya kebetulan atau prasangka, namun secara tidak langsung kita menjadi penikmat strategi marketing.
Bayangkan ada dua brand yang sama-sama menawarkan jasa social media marketing. Brand pertama hanya menjelaskan layanan, fitur, dan manfaat yang ditawarkan. Sementara brand kedua memulai ceritanya dari seorang pemilik bisnis yang sudah rutin mengunggah konten setiap hari, tapi masih menunggu brandnya untuk grow sambil melihat perkembangan yang berarti. Keduanya membicarakan service yang sama, namun pendekatan brand kedua akan terasa ‘lebih dekat’ bagi seseorang yang memiliki masalah serupa.
Di sini lah storytelling marketing berperan. Jadi, brand bukan sekadar menceritakan sesuatu agar konten terasa menarik, melainkan menyampaikan pesan melalui cerita yang relevan, relatable dengan pengalaman, kebutuhan, dan emosi audiens. Lantas, seperti apa definisi dan perbedaan telling story dan storytelling marketing sebenarnya?
Telling Story vs Storytelling, Serupa tapi Tidak Sama
Sekilas keduanya terdengar hanya seperti dua istilah yang bisa digunakan secara bergantian. Keduanya memang berkaitan dengan cerita, tapi sebenarnya ada perbedaan dalam cara penyampaian pesan dan pengalaman yang ingin dibangun.
Telling story berfokus pada apa yang diceritakan, sedangkan storytelling berfokus pada bagaimana cerita tersebut membuat audiens memahami dan merasakan sebuah pesan. Dalam konteks marketing, telling story biasanya berupa penyampaian informasi secara langsung. Brand menjelaskan siapa mereka, produk apa yang ditawarkan, fitur yang dimiliki, atau layanan apa saja yang tersedia. Agar semakin mudah, berikut tabel yang bisa menggambarkan perbedaannya dengan storytelling marketing.
| Telling Story | Storytelling |
| “Kami menyediakan jasa Social Media Management untuk membantu bisnis mengembangkan kehadiran digital melalui strategi konten yang terarah.” | “Sudah rutin posting setiap hari, tetapi engagement masih stagnan dan brand belum banyak dikenal? Bisa jadi, masalahnya bukan pada seberapa sering kamu membuat konten, melainkan pada strategi di baliknya.” |
Dari kedua metode di atas, tidak ada yang salah dan benar penggunaannya dalam marketing. Hanya saja, pengalaman audiens dalam membacanya akan terasa berbeda.
- Pesan dalam Telling Story: Informasi tersebut jelas dan tidak salah. Audiens bisa memahami layanan yang ditawarkan. Namun, jika mereka belum merasa membutuhkan layanan tersebut, pesan tersebut mungkin hanya menjadi informasi tambahan yang mudah dilupakan.
- Pesan dalam Storytelling Marketing: Pesan tersebut tidak langsung menjual layanan. Sebaliknya, pesan tersebut mengangkat masalah yang mungkin sedang dialami audiens. Karena itu, audiens bisa dibuat berhenti sejenak (punya stopping power), lalu dikaitkan dengan solusi (layanan) yang ditawarkan oleh brand.
Perbedaan utamanya bukan terletak pada panjang kalimat atau penggunaan kata-kata yang lebih dramatis. Yang membedakan adalah sudut pandangnya. Telling story cenderung dimulai dari apa yang ingin disampaikan brand. Storytelling marketing justru mempertimbangkan apa yang sedang dialami audiens dan bagaimana brand dapat hadir secara relevan dalam pengalaman tersebut. Artinya, storytelling bukan berarti informasi harus selalu disampaikan secara tidak langsung. Informasi tetap penting, tetapi dikemas dalam konteks yang membuatnya lebih bermakna.
Pentingnya Storytelling dalam Marketing
Di tengah banyaknya konten yang muncul setiap hari, mendapatkan perhatian audiens bukan perkara mudah. Brand tidak hanya bersaing dengan kompetitor yang menawarkan produk serupa, tetapi juga dengan berbagai hal lain yang memenuhi perhatian audiens di media sosial.
Dalam kondisi seperti ini, menyampaikan informasi saja belum tentu cukup. Audiens perlu memiliki alasan untuk memperhatikan, memahami, dan mengingat pesan sebuah brand.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research oleh Tom van Laer et al. pada 2013 membahas konsep narrative transportation, yaitu kondisi ketika seseorang seolah-olah masuk ke dalam dunia yang dibangun oleh sebuah cerita. Penelitian tersebut menggabungkan temuan dari 76 artikel untuk menguji bagaimana keterlibatan seseorang dalam cerita berkaitan dengan respons mereka terhadap pesan yang diterima.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa cerita dapat menjadi pendekatan komunikasi yang menarik dalam marketing. Ketika audiens terlibat dalam sebuah narasi, mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membayangkan situasi, mengikuti pengalaman tokoh, dan membentuk pemahaman berdasarkan cerita tersebut. Berikut beberapa penjelasan terkait relevansinya dengan sebuah brand:
Membuat pesan lebih relevan dengan kehidupan audiens
Orang belum tentu tertarik mendengar bahwa sebuah produk memiliki sepuluh fitur unggulan. Namun, mereka mungkin akan memperhatikan ketika melihat bagaimana fitur tersebut membantu seseorang menyelesaikan masalah yang juga mereka hadapi.
Misalnya, sebuah brand aplikasi produktivitas bisa saja mempromosikan fitur pengingat, kalender, dan pencatatan tugas. Namun, cerita tentang seorang pekerja yang kewalahan mengatur tenggat waktu, kemudian menemukan cara bekerja yang lebih terstruktur melalui aplikasi tersebut, dapat memberikan konteks yang lebih mudah dipahami. Fitur tetap menjadi bagian dari pesan. Bedanya, audiens sekarang mengetahui alasan fitur tersebut penting bagi mereka.
Membangun koneksi emosional dengan brand
Keputusan konsumen tidak selalu didasarkan pada pertimbangan rasional semata. Pengalaman, persepsi, nilai yang dianggap penting, dan emosi juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang menilai suatu brand. Storytelling membuka ruang bagi brand untuk menunjukkan nilai-nilainya melalui pengalaman yang konkret. Alih-alih sekadar mengklaim bahwa brand peduli terhadap pelanggan, misalnya, brand bisa menceritakan bagaimana timnya membantu pelanggan mengatasi kendala tertentu.
Cerita seperti ini memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai cara brand bekerja dan hal-hal yang dianggap penting olehnya.
Namun, perlu diingat bahwa koneksi emosional tidak otomatis terbentuk hanya karena sebuah konten dibuat menyentuh. Cerita tetap harus relevan, masuk akal, dan sesuai dengan pengalaman yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan oleh brand.
Membuat pesan lebih mudah diingat
Nicolas et al. dalam Journal of Retailing and Consumer Services (2020) membandingkan cerita dengan pendekatan emosional dan pendekatan yang lebih kognitif dalam konteks komunikasi perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa cerita dengan pendekatan afektif lebih cepat dan efektif mengubah sikap dalam konteks penelitian tersebut, sedangkan pendekatan kognitif menghasilkan perubahan sikap yang bertahan lebih lama.
Temuan ini memberikan pelajaran penting: emosi memang dapat menarik perhatian, tetapi pesan yang memberikan bahan untuk dipikirkan juga memiliki peran tersendiri. Storytelling yang efektif tidak harus memilih antara emosi dan logika. Keduanya bisa digunakan secara seimbang.
Storytelling Marketing Bukan Sekadar Membuat Cerita yang Menarik
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap storytelling marketing berarti membuat cerita yang dramatis, mengharukan, atau memiliki alur seperti film pendek. Padahal, cerita yang menarik belum tentu efektif untuk marketing. Sebuah video bisa mendapatkan banyak perhatian karena lucu atau menghibur, tetapi jika audiens tidak memahami kaitannya dengan brand, pesan yang ingin disampaikan bisa kehilangan arah.
Sebaliknya, cerita yang sederhana bisa menjadi sangat relevan ketika mampu menggambarkan masalah yang benar-benar dialami target audiens. Karena itu, storytelling marketing sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan, “Cerita apa yang menarik untuk dibuat?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apa yang ingin dipahami audiens, masalah apa yang mereka hadapi, dan bagaimana brand kita relevan dengan situasi tersebut?” Untuk menjawabnya, ada tiga elemen yang perlu diperhatikan.
Relevansi dengan Audiens
Dalam komunikasi pemasaran, brand seringkali terlalu fokus pada dirinya sendiri. Konten dipenuhi informasi mengenai produk, pencapaian perusahaan, fitur layanan, dan berbagai keunggulan yang ingin ditonjolkan. Semua informasi tersebut memang penting. Namun, audiens tidak selalu memiliki alasan untuk langsung peduli. Storytelling yang relevan dimulai dari situasi yang dapat dikenali audiens.
Contohnya, daripada membuka konten dengan “Kami memiliki layanan live shopping profesional”, sebuah brand agency bisa memulai dengan: “Live shopping sudah berjalan berjam-jam, tetapi penonton terus keluar sebelum sesi berakhir. Apa yang sebenarnya membuat mereka bertahan untuk menonton dan akhirnya membeli?”
Pembukaan ini mengangkat persoalan yang relevan bagi pemilik bisnis yang sedang mengembangkan penjualan melalui live shopping. Layanan agency kemudian hadir sebagai bagian dari pembahasan, bukan sekadar promosi yang muncul tanpa konteks.
Kuncinya adalah memahami audiens secara spesifik. Apa tantangan mereka? Apa yang membuat mereka ragu? Apa yang ingin mereka capai? Semakin baik brand memahami pertanyaan-pertanyaan tersebut, semakin mudah cerita dibangun dengan sudut pandang yang tepat.
Konflik dalam Cerita
Cerita biasanya menjadi menarik ketika ada sesuatu yang ingin diselesaikan. Dalam storytelling marketing, konflik tidak harus berupa masalah besar atau kejadian dramatis. Tantangan sederhana dalam kehidupan sehari-hari pun bisa menjadi titik awal yang kuat. Misalnya, sebuah brand skincare ingin mengkomunikasikan produk pelembab. Daripada langsung membahas kandungan dan manfaat produk, cerita dapat dimulai dari seseorang yang merasa kulitnya tetap kering meskipun sudah mencoba berbagai produk.
Situasi tersebut membangun pertanyaan: mengapa masalahnya belum teratasi?
Cerita kemudian dapat menjelaskan faktor-faktor yang mungkin berpengaruh, memperkenalkan informasi yang relevan, dan menunjukkan bagaimana produk dapat menjadi bagian dari rutinitas perawatan yang sesuai.
Dalam contoh ini, produk tidak harus menjadi tokoh utama sejak awal. Audiens terlebih dahulu diajak memahami masalah, kemudian melihat hubungan antara kebutuhan mereka dan solusi yang ditawarkan. Tentu saja produk yang berkaitan dengan kesehatan atau perawatan kulit, klaim dan penjelasannya harus berdasarkan bukti yang memadai. Storytelling tidak boleh menjadi alasan untuk melebih-lebihkan manfaat produk.
Makna dari Pesan dan Value Brand
Cerita yang relevan dan memiliki konflik tetap membutuhkan arah. Tanpa pesan yang jelas, audiens mungkin hanya mengingat kisahnya tanpa memahami apa yang ingin disampaikan brand. Karena itu, setiap cerita perlu memiliki makna yang terhubung dengan positioning, nilai, atau solusi yang ditawarkan.
Jika brand ingin dikenal sebagai partner bisnis yang strategis, misalnya, ceritanya dapat menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis tidak selalu membutuhkan lebih banyak konten, tetapi juga pemahaman audiens, konsistensi pesan, dan strategi distribusi yang tepat. Dengan begitu, cerita bukan hanya menjadi alat untuk menarik perhatian. Cerita juga membantu memperjelas alasan mengapa brand tersebut layak dipertimbangkan.
Cara Menerapkan Storytelling Marketing
Memahami konsep storytelling adalah satu hal. Menerapkannya secara konsisten dalam konten media sosial merupakan tantangan yang berbeda. Setiap platform memiliki format, kebiasaan konsumsi konten, dan karakteristik audiens yang berbeda. Karena itu, storytelling perlu disesuaikan dengan tujuan konten dan cara audiens berinteraksi dengan platform tersebut. Berikut beberapa pendekatan yang dapat digunakan.
| Format | Cara Menerapkan | Tujuan |
| Carousel | Bangun alur dari masalah, insight, hingga solusi. Pastikan setiap slide membuat audiens ingin memahami bagian berikutnya. | Meningkatkan keterlibatan dan membantu audiens memahami pesan secara bertahap. |
| Short form video | Gunakan adegan, dialog, ekspresi, dan konflik sederhana untuk menunjukkan situasi yang dekat dengan audiens. | Menarik perhatian sejak awal dan membuat pesan lebih mudah dipahami melalui visual. |
| Customer Stories | Ceritakan pengalaman pelanggan dengan alur kondisi awal, tantangan, solusi, dan hasil yang terukur. | Membangun kepercayaan melalui pengalaman nyata dan bukti yang relevan. |
| Website/ Landing Page | Mulai dari masalah yang dihadapi target audiens, jelaskan dampaknya, lalu perkenalkan solusi dan bukti pendukung. | Membantu calon pelanggan memahami nilai layanan dan mendorong konversi. |
Kesalahan Storytelling Marketing yang Perlu Dihindari
Meskipun storytelling dapat membantu brand menyampaikan pesan secara lebih menarik, bukan berarti setiap cerita akan memberikan hasil yang baik. Ada beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan ketika mengembangkan strategi ini.
Terlalu fokus pada brand, bukan audiens
Cerita yang terus membicarakan pencapaian perusahaan, keunggulan produk, atau perjalanan pendiri tanpa menghubungkannya dengan kebutuhan audiens berisiko terasa seperti promosi satu arah. Cerita mengenai brand tetap penting, tetapi perlu menjawab alasan mengapa audiens perlu mengetahuinya.
Mendahulukan emosi daripada substansi
Cerita yang menyentuh dapat menarik perhatian, tetapi emosi saja tidak cukup untuk membangun kepercayaan. Pesan harus tetap memiliki dasar yang jelas, terutama jika berkaitan dengan klaim produk, manfaat layanan, atau hasil yang dijanjikan.
Menggunakan cerita yang tidak sesuai dengan identitas brand
Tidak semua tren atau format cerita cocok untuk semua bisnis. Brand B2B, misalnya, tetap bisa menggunakan humor atau cerita personal, tetapi pendekatannya harus sesuai dengan karakter audiens, konteks keputusan pembelian, dan positioning perusahaan.
Tidak memiliki pesan yang jelas
Konten yang menarik tetapi tidak memiliki hubungan dengan tujuan komunikasi brand dapat menghasilkan perhatian tanpa memperkuat persepsi yang diinginkan. Sebelum membuat cerita, tentukan satu pesan utama yang perlu dibawa pulang oleh audiens.
Tidak mengevaluasi performa konten
Storytelling bukan hanya persoalan kreativitas. Brand tetap perlu mengevaluasi apakah cerita yang dibuat berhasil mencapai tujuan komunikasinya.
Jika tujuannya meningkatkan awareness, perhatikan jangkauan, tayangan, dan indikator perhatian yang relevan. Jika tujuannya meningkatkan interaksi, evaluasi komentar, share, save, dan kualitas percakapan yang muncul. Sementara itu, untuk tujuan konversi, perhatikan klik, leads, dan tindakan yang benar-benar berkaitan dengan penjualan.
Metrik yang digunakan perlu mengikuti tujuan kampanye. Jumlah views yang tinggi tidak otomatis menunjukkan bahwa audiens memahami pesan atau tertarik menggunakan layanan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, telling story dan story telling marketing bukan tentang memilih antara menyampaikan informasi atau membuat cerita yang menarik. Keduanya dapat digunakan bersama, tergantung pada tujuan komunikasi yang ingin dicapai.
Telling story membantu brand menyampaikan fakta dan informasi secara langsung. Sementara itu, storytelling membantu menempatkan informasi tersebut dalam konteks yang membuat audiens lebih mudah memahami relevansinya.
Dalam marketing, perbedaan ini penting karena audiens tidak hanya ingin mengetahui apa yang ditawarkan sebuah brand. Mereka juga ingin memahami bagaimana produk atau layanan tersebut berkaitan dengan kebutuhan, tantangan, dan tujuan mereka.
Karena itu, storytelling marketing yang efektif tidak harus selalu dramatis atau emosional. Cerita sederhana tentang masalah yang dekat dengan kehidupan audiens, insight yang membuka perspektif baru, atau pengalaman pelanggan yang autentik pun dapat menjadi cara yang kuat untuk menyampaikan pesan.
Yang terpenting, setiap cerita memiliki tujuan, relevan dengan audiens, mencerminkan identitas brand, dan didukung oleh informasi yang dapat dipercaya.
Sebab, brand yang mudah diingat bukan selalu brand yang paling sering berbicara tentang dirinya sendiri. Bisa jadi, brand tersebut adalah brand yang paling memahami apa yang ingin didengar audiensnya.
Sudah punya cerita untuk brand kamu, tetapi belum yakin bagaimana cara menyampaikannya?
Di Simetrie, kami membantu brand merancang strategi marketing, creative direction, dan konten media sosial yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memiliki pesan yang jelas dan relevan dengan target audiens.
Referensi
Laer, T. V., et al. (2014). The Extended Transportation-Imagery Model: A Meta-Analysis of the Antecedents and Consequences of Consumers’ Narrative Transportation. Journal of Consumer Research, Inc. Diakses dari https://doi.org/10.1086/673383
Fisipol UGM. (2023). Storytelling Marketing: Strategi Ampuh untuk Menarik Konsumen dan Memperluas Jejaring bagi Bisnis Sosial. Diakses dari https://chub.fisipol.ugm.ac.id/2023/10/14/storytelling-marketing-strategi-ampuh-untuk-menarik-konsumen-dan-memperluas-jejaring-bagi-bisnis-sosial/
BINUS. (2026). Storytelling dalam Marketing: Mengapa Cerita Menjual Lebih Kuat dari Produk. Diakses dari https://binus.ac.id/bandung/creativepreneurship/2026/04/30/storytelling-dalam-marketing-mengapa-cerita-menjual-lebih-kuat-dari-produk/
Hamelin, N., et al. (2020). Storytelling, the scale of persuasion and retention: A neuromarketing approach. Journal of Retailing and Customer Services. Diakses dari https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2020.102099
Muhyiddin, T. N., et al. (2026). Pengaruh Content Marketing dan Storytelling Marketing di Media Sosial Instagram terhadap Brand Awareness Perusahaan (Studi Kasus pada Perkebunan Durian Aa Kadu). Jurnal Simki Economic, Volume 9 Issue I. Diakses dari https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2020.102099