Engagement Social Media

Social Media: Search Engine Pengganti Pilihan Gen Z

Ketika media sosial menjadi pintu utama untuk menemukan informasi

Thumbnail Artikel - Socmed pengganti mesin pencari

Pernah terbesit kenapa sekarang Google mulai ‘ditinggalkan’ saat orang mencari informasi? Kini orang-orang, utamanya Gen Z, lebih memilih untuk mencari tahu tentang sesuatu lewat media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Hal ini bukan sekadar tren, tapi fenomena yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena yang sering disebut social search ini tidak hanya terjadi karena perkembangan teknologi, tapi karena ada perubahan preferensi audiens dalam mengkonsumsi konten. Bagaimana penjelasan lengkapnya mengenai social search dan preferensi Gen Z dalam mencari informasi? Yuk kita simak bersama dalam artikel berikut!

Apa itu Search Engine dan Social Search?

Search engine adalah sebuah program yang berbasis web yang dirancang untuk mencari dan menemukan informasi di internet. Salah satu search engine yang dominan dan populer digunakan oleh orang di seluruh dunia adalah Google. Selama lebih dari dua dekade, Google telah menjadi andalan karena algoritma yang cepat dan akurat. 

Namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan kebiasaan audiens, terutama Gen Z, dalam mengkonsumsi informasi. Social search adalah fenomena yang umum sekarang. Dimana audiens lebih memilih untuk mencari tahu sesuatu melalui media sosial. Beberapa media sosial yang sering digunakan yaitu Instagram, TikTok, dan YouTube.

Pergeseran Pilihan Search Engine Gen Z

Dominasi Google selama dua dekade terakhir kini menghadapi tantangan baru karena adanya pergeseran perilaku pencarian yang dilakukan audiens. Di tahun 2024, sebuah studi oleh Forbes Advisor menunjukkan setidaknya 46% dari Gen Z mulai beralih ke media sosial sebagai mesin pencari utama mereka. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini telah berevolusi dari sekadar media berjejaring menjadi search engine yang kuat.

Mulai dari inspirasi outfit, rekomendasi kuliner, hingga tutorial kompleks dan brand marketing advice kini dicari langsung melalui media sosial. Transisi ini menandakan bahwa generasi muda mulai meninggalkan metode pencarian tradisional, yang otomatis mengubah cara mereka berinteraksi dengan konten brand maupun iklan pemasaran.

Kenapa Gen Z Lebih Pilih Cari Informasi di Media Sosial

Tren social search membuktikan adanya perubahan besar dalam cara audiens berselancar di internet. Fenomena ini tidak terjadi secara instan, melainkan didorong oleh beberapa faktor yang membuat generasi muda lebih memilih media sosial untuk mencari informasi. Dibandingkan mengetik kata kunci di Google lalu memilah hasil pencarian yang penuh trik SEO, mereka lebih suka membuka platform sosial favorit untuk menemukan konten yang terasa lebih autentik, menarik secara visual, dan selalu up-to-date.

Konten Visual Lebih Mudah Dipahami

Gen Z tumbuh bersama jutaan video pendek dan konten visual. Informasi dalam bentuk gambar atau video terasa lebih mudah dikonsumsi daripada konten yang penuh tulisan dan link. Ketika seseorang mencari “tempat makan murah di Surabaya,” video 30 detik di TikTok seringkali lebih menarik daripada membaca daftar rekomendasi di website.

Terlebih, ketika Gen Z mencari informasi melalui TikTok, karena melalui video di sana menunjukkan suasana, harga, dan pengalaman user secara langsung.

Influencer dan Kreator Lebih Relatable

Konten video dari kreator atau influencer punya daya tarik emosional yang kuat bagi audiens karena dapat membangun relatability. Lewat format ini, audiens dapat langsung melihat ekspresi, mendengar pengalaman personal, hingga membaca interaksi di kolom komentar. Ditambah lagi, adanya likes dan shares yang secara tidak langsung membentuk sistem kredibilitas bawaan yang dapat membangun kepercayaan audiens tanpa ragu.

Update Informasi Lebih Real-Time

Tren dan informasi di dunia digital bergerak dengan sangat cepat. Hasil pencarian dari search engine belum tentu dapat memenuhi kebutuhan real-time update, karena algoritmanya yang sangat bergantung pada optimasi SEO. Belum lagi proses produksi konten situs website yang harus melewati tahap penulisan dan penyuntingan yang panjang. Sebaliknya, konten di TikTok atau Instagram dapat diproduksi dan berganti dalam hitungan detik. Karena itu, audiens sering membuka media sosial terlebih dahulu untuk mengetahui hal yang sedang viral atau informasi terbaru.

Dampak bagi Brand Marketing dan Bisnis

Perubahan perilaku pencarian ini membawa konsekuensi besar bagi strategi digital marketing sebuah brand atau bisnis. Kini brand tidak cukup sekadar memiliki website yang SEO-friendly, melainkan sebuah brand juga harus memastikan mereka memiliki digital presence yang kuat di media sosial. Mereka perlu memastikan kontennya mudah ditemukan di media sosial dan menjangkau audiens secara luas.

Selain itu, fenomena ini juga membawa beberapa dampak struktural bagi para bisnis dan brand owner di antaranya:

  • Strategi marketing brand kini harus beralih ke iklan berbasis platform sosial demi menjangkau audiens yang lebih luas
  • Kemasan visual dari iklan sebuah brand dituntut lebih kreatif. Brand harus mulai terbiasa untuk melakukan kolaborasi dengan content creator agar dapat masuk ke dalam algoritma pencarian audiens
  • Brand harus belajar bagaimana menyusun strategi marketing yang baik agar iklan atau campaign yang dilakukan bisa menghasilkan leads dengan cepat
  • Karena audiens sangat mempercayai sistem community validation, brand juga harus menjaga reputasi dan mengelola respons lewat kolom komentar atau DM (direct message)

Apakah Brand Harus Meninggalkan Google?

Namun di tengah umumnya fenomena ini, apakah strategi marketing brand kemudian harus mengabaikan hasil search engine atau bahkan meninggalkan Google? Jawabannya, tidak sepenuhnya. Dilansir CNN pada April 2026, sebanyak 89% Gen Z di Indonesia juga masih menggunakan Google sebagai search engine. Tetapi mereka sekarang tidak sekadar menggunakan search, namun mereka mencari lebih dalam dengan memanfaatkan kehadiran AI dalam search engine yang digunakan. 

Dalam arti lain, Google tetap menjadi sumber yang digunakan untuk pencarian yang membutuhkan data mendalam, berita resmi, atau portal referensi terpercaya. Di sisi lain, untuk pencarian yang sering dilakukan sehari-hari seperti rekomendasi produk, kuliner, dan lainnya media sosial semakin menjadi pilihan pertama. 

Kini pengguna menggunakan keduanya secara beriringan, mereka punya dua kebiasaan:

  • Google atau search engine untuk mencari informasi formal dan detail
  • Media sosial untuk mencari pengalaman, rekomendasi, dan jawaban cepat

Karakter Setiap Social Media Platforms

Dapat dikatakan, kini generasi muda dan kita semua sedang hidup dalam era multi-platform search. Dimana Google dan media sosial sama-sama digunakan untuk memenuhi kebutuhan untuk mencari informasi. Untuk menjangkau audiens yang luas dan memperoleh hasil maksimal, brand juga harus paham karakter setiap social media platforms seperti yang dijelaskan dalam poin-poin berikut:

TikTok sebagai Tempat Mencari Rekomendasi

Tahun 2026 TikTok memiliki fitur pencarian yang semakin canggih. Pengguna bisa mengetik kata kunci seperti “rekomendasi kuliner malam Surabaya” atau “must visit place di Malang,” maka TikTok akan langsung menampilkan video yang paling relevan. 

TikTok menjadi tempat dimana para pengguna bisa mendapatkan informasi rekomendasi tempat, kuliner, bahkan makeup secara cepat. Inilah alasan banyak brand atau bisnis mulai memperhatikan konten-konten yang mereka bagikan di TikTok. Optimasi tidak lagi hanya dilakukan di Google, tetapi juga pada hook video, caption, hashtag, dan kata kunci yang diucapkan dalam video.

Instagram, Platform Inspirasi Visual dan Lifestyle

Meskipun kini Instagram juga berlomba mengoptimalkan section Reels mereka, Instagram tetap menjadi platform dimana pengguna mencari inspirasi visual dan lifestyle. Banyak orang mencari ide outfit, inspirasi desain, bahkan sampai ke jasa profesional.

Instagram kini memperhatikan keyword dalam caption, alt text, nama akun, dan engagement untuk menentukan hasil pencarian. Copywriting menjadi hal utama yang perlu diperhatikan dalam membagikan konten di Instagram.

YouTube Tetap Menjadi Search Engine Video Terbesar

Jika TikTok dan Instagram unggul dalam jawaban cepat, YouTube tetap menjadi tempat dimana pengguna mencari konten video yang menjelaskan suatu informasi secara mendalam. Konten yang biasa pengguna cari di YouTube di antaranya adalah digital marketing tips, tutorial software, dan review produk yang mendalam. Karena itu, YouTube bisa digunakan sebagai platform untuk menyampaikan edukasi dalam durasi panjang.

Strategi Social Media Marketing yang Cocok

Untuk memenangkan kompetisi di era baru ini, brand harus mengadopsi strategi brand marketing yang selaras. Apa saja yang bisa diimplementasikan sebagai brand?

  • Optimalkan konten untuk social search. Gunakan keyword yang relevan pada judul, caption, dan narasi video agar lebih mudah ditemukan di media sosial
  • Buat konten yang relatable dan bangun koneksi emosional. Audiens lebih mudah terhubung dengan konten yang mencerminkan pengalaman, kebutuhan, atau masalah yang mereka alami sehari-hari (relatable). Konten yang mampu membangun rasa percaya, empati, dan kedekatan akan lebih mudah diingat.
  • Sesuaikan strategi dengan karakter setiap platform. Karena behavior audiens dari setiap platform berbeda, brand perlu menyesuaikan konten yang akan dibagikan melalui masing-masing platform.

Perubahan perilaku digital, terutama pada Gen Z, terhadap kebiasaan mereka berselancar di internet menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan oleh brand. Kita harus mampu menghadirkan konten yang relevan, mudah ditemukan, dan memberikan nilai bagi audiens. Sudahkah strategi konten brand Anda selaras dengan fenomena ini?

Jika ingin membangun strategi social media marketing atau digital branding yang lebih efektif, #KreatifnyaSimetrie bisa membantu bisnis Anda! Kunjungi media sosial atau WhatsApp Simetrie untuk konsultasi GRATIS sekarang!

DAFTAR PUSTAKA

Hoffmaann, A. (2025). The Rise of Social Media as a Search Engine: From Clicks to Scrolls. Diakses dari https://passion.digital/blog/the-rise-of-social-media-as-a-search-engine-from-clicks-to-scrolls/.

Haan, K. (2024). Is Social Media The New Google? Gen Z Turn To Google 25% Less Than Gen X When Searching. Diakses dari https://www.forbes.com/advisor/business/software/social-media-new-google/.

CNN Indonesia. (2026). Gen Z Masih Pakai Google Search Buat Cari Informasi, Ini Buktinya. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260423142016-185-1351205/gen-z-masih-pakai-google-search-buat-cari-informasi-ini-buktinya

Percival, N. (2025). Social search: what it is and how to embrace it. Diakses dari https://submerge.digital/content-marketing/social-search-what-it-is-and-how-to-embrace-it/.

KOL.ID. (2026). Social-First Search, Generasi Muda yang “Googling” Langsung di TikTok atau Instagram. Diakses dari https://kol.id/blog/social-first-search.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kirim Pesan
Segera hubungi bila ingin ditanyakan?