Bayangkan brand Anda dituduh melakukan pencucian uang (money laundry) di depan jutaan orang. Kebanyakan brand mungkin akan panik, merilis surat pernyataan resmi yang kaku dengan kop surat berlogo perusahaan, atau bahkan mengancam jalur hukum. Tapi tidak dengan Amanda Brownies.
Alih-alih tampil defensif, admin mereka justru membalas dengan kalimat yang jauh dari pakem PR: ‘Udah 25 tahun berdiri dibilang money laundry… anak kemarin sore banget u.’ Hasilnya? Bukannya dihujat, netizen malah pasang badan, ribuan review gratis bermunculan, dan penjualan justru meroket.
Inilah era baru pemasaran di platform X: di mana karakter yang ‘nyablak’ lebih menjual daripada bahasa brosur, dan strategi Content Leveraging terbukti jauh lebih ampuh daripada bakar duit untuk iklan yang cuma dilewati. Kalau brand Anda masih terasa seperti robot yang cuma tahu cara teriak jualan, mungkin Anda sedang menggali kubur sendiri di tengah riuhnya percakapan netizen. Di era digital sekarang, konten bukan sekadar aset pemasaran, ia menjadi ruang percakapan yang menentukan apakah sebuah brand hanya muncul sesaat atau benar-benar menjadi top of mind audiens. Strategi leveraging content muncul sebagai pendekatan yang tidak hanya hemat budget, tetapi juga efektif membangun engagement dan awareness secara organik.
Sebenernya, Apa itu Leveraging Content?
Content leveraging adalah strategi di mana sebuah brand tidak hanya membuat konten baru dari nol, tetapi mengoptimalkan konten yang sudah ada, memasuki percakapan yang sudah ramai, dan menggabungkannya dengan tujuan branding serta engagement yang jelas. Pendekatan ini dibangun di atas tiga pilar :
- Relevansi : memilih momen atau percakapan yang sedang tren.
- Brand Voice : memasukkan karakter merek secara konsisten.
- Distribution & Amplification : memaksimalkan reach lewat respon, repost, atau user-generated content (UGC).
Pendekatan semacam ini berbeda dengan konten tradisional yang fokus hanya pada produksi konten baru. Leveraging content lebih berfokus pada memaksimalkan momentum yang sudah ada, sehingga biaya yang dibutuhkan bisa jauh lebih rendah dibandingkan iklan besar.
Kalau ditanya mau jualan di mana, mayoritas brand akan teriak serempak: Instagram atau TikTok. Gak salah, sih. Tapi masalahnya, di sana semua orang lagi teriak. Algoritma memaksa kita untuk terus-menerus tampil estetik atau bikin video transisi yang melelahkan. Hasilnya? Audiens lelah, engagement turun, dan konten kita cuma jadi sampah digital yang di-scroll dalam 0,5 detik.
Di sinilah platform X (Twitter) menawarkan sesuatu yang beda: Blue Ocean.
Saat brand lain sibuk perang budget iklan di TikTok, X justru jadi arena yang relatif “sepi” dari brand kreatif. Seperti yang dibilang tim di balik @toshibatv_id, X adalah tempat di mana percakapan lebih dihargai daripada sekadar visual.
Mungkin Anda bertanya: “Kenapa harus X? Bukankah strategi leveraging content bisa dilakukan di mana saja?”
Jawabannya: Bisa, tapi “konteksnya” harus ganti. Strategi ini memang universal, namun setiap platform punya “bahasa gaul” yang berbeda.
Di TikTok, Anda leverage lewat tren audio dan gerakan (Entertainment-driven). Di Instagram, Anda leverage lewat estetika dan gaya hidup (Aspiration-driven). Di LinkedIn, Anda leverage lewat data dan opini profesional (Insight-driven). Namun, kenapa kita menyebut X sebagai Blue Ocean bagi brand di tahun 2026? Ada tiga alasan krusial :
1. Low Barrier, High Impact
Di platform seperti TikTok atau Instagram, Anda seringkali terjebak dalam perlombaan senjata produksi. Untuk menonjol, Anda butuh tim kreatif, peralatan lighting profesional, hingga proses editing yang memakan waktu. Namun di X, hambatan masuknya sangat rendah sementara dampaknya bisa sangat masif. Senjata utamanya hanyalah dua: Otak dan Jempol. Satu baris kalimat cerdas seperti respon instan admin Amanda Brownies mampu menghasilkan viralitas organik yang jauh melampaui video iklan berbiaya jutaan rupiah. Di sini, kualitas gagasan adalah mata uang yang paling berharga.
2. Kecepatan Interaksi (The Speed of Wit)
X tetap menjadi satu-satunya platform yang memungkinkan brand untuk saling “menyahut” dan berinteraksi dalam hitungan detik secara publik tanpa terasa seperti gimik iklan yang dipaksakan. Di platform lain, kolaborasi antar brand sering kali terlihat kaku, penuh birokrasi, dan terlalu terencana. Sebaliknya, interaksi di X terasa seperti percakapan organik di sebuah tongkrongan. Kecepatan merespon tren atau menyapa audiens dengan gaya santai inilah yang membangun kedekatan emosional tanpa sekat korporasi.
3. Budaya “Loyal pada Konteks”
Salah satu keunikan netizen X adalah mereka tidak terlalu peduli seberapa besar logo atau sejarah perusahaan Anda. Loyalitas mereka diberikan kepada siapa yang paling cerdas dalam menanggapi sebuah isu atau konteks yang sedang hangat. Ini membuka peluang emas bagi brand kecil untuk “numpang tenar” secara elegan. Lewat satu thread yang mendalam atau satu reply yang jenius, sebuah bisnis lokal bisa berdiri sejajar dengan raksasa industri di mata audiens.
Saat platform lain sudah sesak dengan brand yang berteriak lewat visual, X masih menjadi kolam tenang bagi mereka yang jago bercakap-cakap. Inilah kenapa memahami behaviour platform menjadi syarat mutlak sebelum Anda memutuskan untuk viral.
Banyak brand mengira content leveraging selesai saat konten viral atau ramai dibicarakan. Padahal, di tahun 2026, virality tanpa kesinambungan hanya menghasilkan noise, bukan top of mind. Di sinilah omnichannel berperan penting. Content leveraging bekerja sebagai pemantik atensi, brand masuk ke percakapan yang sudah ramai, ikut nimbrung secara relevan, lalu mendapatkan exposure organik. Namun, omnichannel memastikan atensi itu tidak berhenti di satu platform saja, melainkan berlanjut menjadi pengalaman brand yang konsisten di berbagai touchpoint. Dengan kata lain :
- Leveraging content menarik perhatian
- Omnichannel menjaga perhatian itu tetap hidup
Sebagai contoh, ketika sebuah brand viral di X karena respons yang witty terhadap topik tertentu, audiens tidak berhenti di sana. Mereka akan :
- Mengunjungi Instagram untuk melihat karakter brand
- Mengecek TikTok untuk memahami vibe-nya
- Membuka website atau marketplace untuk validasi
- Menghubungi WhatsApp atau DM untuk bertanya
Jika setiap channel tersebut tidak saling terhubung secara pesan, visual, dan tone, maka efek viral tadi akan cepat menghilang. Sebaliknya, ketika brand sudah menyiapkan sistem omnichannel yang rapi, leveraging content berubah dari sekadar momen viral menjadi mesin penguat brand recall. Inilah mengapa strategi content leveraging yang matang tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan omnichannel sebagai sistem distribusi dan pengalaman yang berkelanjutan agar brand tidak hanya muncul di timeline, tetapi juga menetap di ingatan audiens.
Banyak pelaku pasar yang terjebak dalam kesalahpahaman fatal: mereka mengira content leveraging hanyalah soal mengejar tren atau menempelkan hashtag populer pada setiap unggahan. Padahal, jika hanya itu yang dilakukan, itu tidak sedang melakukan pemasaran tetapi sedang melakukan spamming. Content leveraging yang cerdas, seperti yang dipraktikkan oleh Amanda Brownies atau Duolingo, bukan tentang seberapa cepat brand ikut-ikutan, melainkan tentang seberapa jitu konteks dan reaksi yang di berikan. Berikut adalah empat pilar utama dalam mengeksekusi content leveraging yang mampu mengubah percakapan menjadi konversi :
1. Membangun Karakter yang “Flawed” (Tidak Sempurna)
Dunia branding konvensional sering kali menuntut citra yang suci, sempurna, dan tanpa cela. Namun, di media sosial modern, kesempurnaan justru menciptakan jarak. Amanda Brownies mendobrak pakem ini dengan berani. Ketika diterpa isu miring, mereka tidak bersembunyi di balik siaran pers kaku. Mereka membalas dengan bahasa yang “nyablak” dan manusiawi.
Kuncinya sederhana: Berhentilah menjadi sekadar logo perusahaan, mulailah menjadi manusia di balik layar. Netizen memiliki kecenderungan psikologis untuk membela individu yang memiliki karakter kuat daripada membela entitas korporasi yang dingin. Saat Anda menunjukkan sisi “cacat” atau humor yang organik, Anda sedang membangun jembatan emosional yang tidak bisa dibeli dengan iklan.
2. Menangkap Momentum: The Art of Catching the Ball
Dalam dinamika media sosial, interaksi audiens sering kali ibarat “bola panas” yang dilemparkan ke arah brand. Anda punya dua pilihan: mematikan bola tersebut dengan klarifikasi membosankan, atau memantulkannya kembali sebagai umpan lambung untuk mencetak gol kreatif.
Lihat bagaimana Amanda Brownies menangkap isu money laundering. Alih-alih panik, mereka mengubah tuduhan tersebut menjadi panggung untuk merayakan legacy 25 tahun mereka dengan cara yang cerdas dan berkelas. Langkah ini secara otomatis memicu gelombang User Generated Content (UGC) dari netizen yang dengan sukarela memberikan testimoni. Itulah leveraging sejati saat Anda mampu memutarbalikkan narasi negatif menjadi validasi publik.
3. Kolaborasi Antar-Karakter dan Kekuatan Narasi
Strategi tingkat lanjut dari leveraging adalah saat dua karakter brand saling berinteraksi. Contohnya adalah “drama PDKT” antara @toshibatv_id dan @_AmandaBrownies di X. Mereka tidak sedang berjualan spesifikasi TV atau kelembutan tekstur brownies; mereka sedang menjual cerita.
Ketika dua brand besar berinteraksi secara organik, audiens merasa seperti sedang menonton komedi situasi yang menghibur. Efek top-of-mind yang dihasilkan dari storytelling seperti ini jauh lebih membekas di ingatan konsumen dibandingkan dengan iklan billboard di jalan protokol sekalipun.
4. Paham Behaviour Platform: Tempat Kita Berpijak
Content leveraging menuntut kepekaan terhadap kultur platform. X (Twitter) adalah tempat bagi mereka yang menghargai kecepatan dan sarkasme cerdas. Sementara Threads mungkin lebih merangkul diskusi yang hangat dan mendalam. Prinsipnya tegas: Jangan membawa gaya “TikTok” yang mengandalkan kebisingan visual ke arena X yang membutuhkan kecerdasan kata-kata.
Banyak brand besar gagal di X meskipun memiliki jutaan pengikut karena mereka terlalu sibuk menjaga imej. Mereka lupa bahwa mereka sedang berada di “tongkrongan”, bukan di ruang rapat. Di X, jika Anda tidak bisa diajak bercanda atau berbicara seperti layaknya teman, Anda akan dianggap sebagai gangguan. Kenali platformnya, pahami perilakunya, dan biarkan brand Anda berbicara dengan bahasa yang dipahami oleh penghuninya. Meskipun content leveraging menawarkan peluang viralitas yang menggiurkan, efektivitasnya sering kali terhambat oleh pendekatan yang kaku dan kurangnya pemahaman terhadap sosiologi platform. Kegagalan ini biasanya berakar pada empat kesalahan fatal yang membuat sebuah brand justru dijauhi oleh audiensnya.
1. Dominasi “Brosur Digital” dan Hard Selling yang Eksplisit
Kesalahan yang paling sering dijumpai adalah pemindahan katalog produk secara mentah-mentah ke dalam timeline. Harus dipahami bahwa di platform X, distraksi dan hiburan adalah komoditas utama yang dicari oleh pengguna, bukan lembaran diskon di detik pertama mereka membuka aplikasi. Apabila isi akun hanya dipenuhi oleh seruan pasif seperti “Beli sekarang!” atau “Diskon 10% hari ini!”, maka akun tersebut akan segera dianggap sebagai bot atau sekadar angin lalu yang tidak berharga. Di media sosial yang berbasis percakapan, pendekatan direct selling yang agresif justru menciptakan dinding pemisah antara produk dan calon konsumen. Pengguna tidak datang untuk dipaksa membeli, melainkan untuk diajak berinteraksi.
2. Respon PR yang Terlalu “Steril” dan Mekanis
Sering kali ditemukan brand yang terjebak dalam penggunaan template jawaban seragam untuk setiap bentuk interaksi maupun keluhan. Kalimat klise seperti, “Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, silakan hubungi kami via DM,” kerap dianggap sebagai pembunuh percakapan yang paling efektif. Kebutuhan audiens untuk didengar oleh sesama manusia sering kali diabaikan oleh penggunaan mesin penjawab otomatis atau prosedur operasi standar (SOP) yang terlalu kaku. Ketika sebuah brand merespon dengan cara yang terlalu steril, kesan korporasi yang dingin akan semakin menguat. Padahal, koneksi emosional hanya dapat dibangun melalui dialog yang terasa personal, autentik, dan memiliki “nyawa”.
3. Kegagalan Memahami Konteks (Tone-Deaf)
Risiko besar sering kali diambil ketika strategi content leveraging dipaksakan masuk ke dalam tren yang sensitif, seperti bencana alam atau isu politik, tanpa disertai empati yang cukup. Cara ini dipandang sebagai jalan tercepat menuju pengucilan massal (cancel culture). Keberhasilan yang diraih oleh akun seperti Amanda Brownies atau Toshiba TV tidak didapatkan secara kebetulan. Kesuksesan mereka dikarenakan adanya pemahaman mendalam mengenai kapan waktu yang tepat untuk bercanda dan pada topik apa karakter mereka diperbolehkan untuk “masuk”. Tanpa kepekaan terhadap konteks, upaya kreatif sebuah brand justru akan terlihat oportunis dan tidak berperasaan di mata publik.
4. Replikasi Strategi Antar-Platform yang Tidak Relevan
Strategi yang berhasil di Instagram dengan kekuatan estetika visualnya, atau TikTok dengan tren tarian dan musiknya, belum tentu dapat diterima di ekosistem X. Pemaksaan video estetik tanpa dukungan copywriting yang tajam di X sering diibaratkan seperti penggunaan setelan jas lengkap di tepi pantai; salah tempat dan salah kostum.
Setiap platform memiliki perilaku audiens yang unik. Di X, keputusan pembelian sering kali tidak didasarkan pada seberapa bagus foto produk yang ditampilkan, melainkan pada seberapa kenal audiens dengan persona yang menjualnya. Kedekatan karakter inilah yang menjadi mata uang utama dalam memenangkan hati konsumen di jagat digital.
Pada akhirnya, apa yang kita pelajari dari fenomena Amanda Brownies, Toshiba TV, hingga Duolingo adalah sebuah pergeseran paradigma. Media sosial bukan lagi sekadar papan reklame digital, melainkan ruang tamu yang luas di mana orang-orang ingin dihargai, dihibur, dan diajak bicara.
Viralitas memang manis, tapi ia punya masa kadaluarsa. Strategi Content Leveraging bukan hanya tentang bagaimana cara menjadi pusat perhatian dalam semalam, tapi tentang bagaimana sebuah brand membangun “nyawa” agar tetap relevan di tengah arus informasi yang luar biasa cepat. Ingat, netizen tidak akan setia pada sebuah logo, tapi mereka akan sangat loyal pada sebuah karakter yang mereka rasa “nyambung” dengan mereka. Jadi, pilihannya sekarang ada di tangan Anda: Ingin terus menjadi brand kaku yang diabaikan, atau mulai menjadi karakter yang selalu dinantikan kehadirannya di timeline? Sudah siap mengubah cara brand Anda berkomunikasi tapi bingung harus mulai dari mana? Jangan biarkan brandmu tenggelam dalam kebisingan media sosial. #KreatifnyaSimetrie siap membantu kamu membedah potensi platform yang paling cocok, membangun persona yang otentik, hingga mengeksekusi strategi content leveraging yang bikin kompetitor iri. Jangan cuma jadi penonton saat brand lain viral. Konsultasikan strategi marketingmu di tahun 2026 bersama #KreatifnyaSimetrie atau klik disini !
Daftar Pustaka :
Aprilia, S., & Rachmawati, I. (2021). Pengelolaan User-Generated Content sebagai Strategi Promosi dalam Membentuk Brand Image. Prosiding Manajemen Komunikasi, 446-448.
Razak Ismail. 2024. Content Marketing Strategy in Increasing Consumer Interaction On Social Media. Journal of Data Science, 2(3), 14-21.
https://jscottmarketing.com/leveraging-content-maximize-marketing
Richard Buckle. (2023). What is Content Leveraging. Wellmeadow. https://blog.wellmeadow.co.uk/what-is-content-leveraging
Pandrianto, N., & Sukendro, G. G. (2018). Analisis strategi pesan content marketing untuk mempertahankan brand engagement.Jurnal Komunikasi,10(2), 167-176.
Wono, H. Y., Supriaddin, N., Amin, F., Indriastuti, Y., & Sufa, S. A. (2023). Media Sosial, Literasi Digital, Dan Inovasi Bisnis Trikotomi Baru Dalam Manajemen Strategi.Branding: Jurnal Manajemen dan Bisnis,2(1).
