Uncategorized

Omnichannel Marketing 2026 : Tren Teknologi & Strategi yangWajib Diadopsi Brand Kamu

Panduan lengkap menghadapi perilaku konsumen baru dengan pendekatan omnichannel yang lebih cerdas.

thumbnail artikel

Omnichannel marketing bukan sekadar strategi biasa, tetapi napas baru strategi bisnis di tahun 2026. Di tengah lanskap digital Indonesia yang kian matang, batasan antara dunia fisik dan maya telah lebur menjadi satu ekosistem “phygital”. Konsumen saat ini tidak lagi melihat batasan saluran; mereka mengharapkan transisi yang tanpa cela, mulai dari melihat iklan di media sosial, mencoba barang lewat Augmented Reality, hingga melakukan transaksi via QRIS di toko fisik yang secara otomatis mencatat poin loyalitas tanpa hambatan.

Perubahan drastis perilaku konsumen dan ledakan teknologi seperti Generative AI menuntut brand untuk tidak lagi bekerja dalam sekat-sekat departemen yang terpisah. Integrasi data yang sinkron di setiap titik kontak bukan lagi sebuah pilihan, melainkan standar minimum operasional. Brand yang gagal menyatukan pengalaman ini akan terjebak dalam stagnasi, sementara mereka yang mampu menghadirkan kenyamanan “satu klik” di mana pun pelanggan berada akan memenangkan loyalitas jangka panjang. Inilah pembeda utama antara mereka yang sekadar bertahan dan pemimpin pasar masa depan.

Omnichannel marketing tentu juga bukan sekadar strategi teknis, melainkan seni mengintegrasikan seluruh touchpoint pelanggan dari ranah digital hingga oLline store untuk menciptakan pengalaman yang konsisten, personal, dan tanpa hambatan. Di ekosistem ini, pelanggan yang berpindah dari interaksi di Instagram dan WhatsApp menuju belanja di marketplace atau gerai fisik akan tetap merasa “dikenali” oleh brand secara seamless. Inilah perbedaan fundamentalnya dengan multichannel: jika multichannel hanya sekadar eksistensi di banyak kanal yang bekerja secara terisolasi, maka omnichannel adalah harmoni data terpadu yang menyatukan segalanya.

Dalam praktiknya, perbedaan antara keduanya sangat krusial; strategi multichannel seringkali membuat pelanggan lelah karena harus mengulang informasi yang sama saat berpindah dari Instagram ke WhatsApp atau toko fisik akibat data yang terfragmentasi antaradmin. Sebaliknya, omnichannel menghadirkan pengalaman yang jauh lebih manusiawi melalui integrasi data tunggal. Dengan sistem ini, saat seorang pelanggan menghubungi admin WhatsApp setelah sebelumnya berbelanja di gerai fisik, admin tersebut dapat langsung menyapa dengan personal: “Halo Kak, apakah sepatu ukuran 42 yang Kakak beli di toko kemarin nyaman dipakai?” Sentimen “dimengerti” inilah yang mengubah transaksi biasa menjadi koneksi emosional, memastikan pelanggan merasa diprioritaskan di setiap titik sentuh tanpa perlu ada penjelasan yang berulang.

Dengan sinkronisasi data real-time, customer journey bertransformasi menjadi lebih intuirif dan bebas friksi. Setiap tahapan mulai dari membangun kesadaran (awareness), fase pertimbangan (consideration), hingga keputusan pembelian (purchase) terjalin erat untuk memupuk loyalitas (retention) yang mendalam. Hasilnya, pelanggan tidak lagi merasa sebagai angka dalam sistem, melainkan individu yang mendapatkan layanan personal di mana pun mereka berada, memperkuat ikatan antara brand dan audiensnya.

Data mengenai perilaku konsumen modern mengungkapkan sebuah kenyataan yang tak terbantahkan: perjalanan pelanggan saat ini sangatlah dinamis dan kompleks. Riset terbaru di sektor B2C (Business-to-Consumer) menunjukkan bahwa lebih dari separuh pelanggan kini secara aktif menggunakan tiga hingga lima saluran komunikasi berbeda hanya untuk menyelesaikan satu siklus pembelian atau permintaan layanan. Fenomena ini terlihat sangat kontras di industri perjalanan dan perhotelan; bayangkan, seorang pelanggan yang hanya ingin melakukan reservasi satu kamar hotel secara daring rata-rata harus berpindah hingga enam kali antara situs web desktop dan aplikasi mobile sebelum akhirnya merasa yakin untuk melakukan pembayaran.

Namun, dinamika ini membawa risiko yang sangat besar bagi brand. Ketika pelanggan menemukan informasi yang tidak sinkron seperti perbedaan harga di Instagram dan toko fisik atau merasa kesulitan menemukan data yang mereka butuhkan akibat sistem yang terputus, ketertarikan mereka terhadap produk tersebut akan luntur seketika. Friksi atau hambatan sekecil apa pun di salah satu saluran akan memicu hilangnya kepercayaan, yang berujung pada kegagalan konversi.

Sebaliknya, keberhasilan dalam mengelola strategi omnichannel akan memberikan dampak instan dan signifikan pada performa finansial bisnis. Statistik membuktikan bahwa pelanggan yang mendapatkan pengalaman omnichannel yang mulus cenderung berbelanja 1,7 kali lebih sering dibandingkan pelanggan yang hanya terpaku pada satu saluran tunggal. Tidak hanya frekuensi belanjanya yang lebih tinggi, mereka juga memiliki nilai keranjang belanja (average order value) yang jauh lebih besar. Hal ini menegaskan bahwa investasi pada integrasi data lintas saluran bukan sekadar soal kenyamanan teknis, melainkan strategi pertumbuhan ekonomi yang nyata. Pelanggan yang merasa “terhubung” dan dihargai di setiap titik sentuh tidak akan ragu untuk mengeluarkan uang lebih banyak, karena mereka membeli sebuah rasa aman dan efisiensi yang tidak diberikan oleh kompetitor.

Implementasi Nyata: Dari Ritel hingga Ekosistem Digital

Salah satu tolok ukur kesuksesan strategi ini dapat kita lihat pada Sephora. Raksasa kecantikan ini memprioritaskan personalisasi tingkat tinggi melalui sinkronisasi pesan di aplikasi, notifikasi push yang relevan, serta kemudahan reservasi konsultasi kecantikan di gerai fisik. Kecanggihan teknologi di dalam toko memungkinkan staf mengakses profil digital dan daftar produk favorit pelanggan secara real-time untuk memberikan rekomendasi yang akurat. Hasilnya sangat impresif: data menunjukkan bahwa pelanggan yang mengunjungi situs web dalam 24 jam setelah mengunjungi toko fisik memiliki probabilitas pembelian tiga kali lebih tinggi, dengan nilai pesanan rata-rata meningkat sebesar 13%. Ini membuktikan bahwa kehadiran fisik dan digital yang saling mendukung akan mendorong keinginan belanja yang lebih kuat.

Di sisi lain, Nike membawa omnichannel ke level yang lebih dalam melalui konsep “ekosistem komunitas”. Melalui aplikasi SNKRS dan Nike Run Club, mereka tidak hanya menjual sepatu, tetapi membangun gaya hidup. Platform ini memfasilitasi acara oLline dan pertemuan komunitas lari, yang mempererat ikatan antara konsumen dan brand. Dengan menyediakan aplikasi latihan personal, Nike berhasil memperluas pengalaman merek jauh melampaui sekadar transaksi produk pakaian olahraga. Strategi ini menciptakan loyalitas yang tak tergoyahkan; Nike tidak lagi hanya hadir sebagai penjual, melainkan sebagai mitra dalam perjalanan kesehatan penggunanya. Melalui integrasi konten, komunitas, dan penawaran eksklusif, Nike membuktikan bahwa omnichannel yang sukses adalah tentang membangun ekosistem yang selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan pelanggan.

Sebagai salah satu Unicorn F&B kebanggaan Indonesia, Kopi Kenangan sukses mendefinisikan ulang strategi omnichannel melalui integrasi aplikasi seluler yang sangat personal. Salah satu fitur unggulannya, “Send as a Gift”, memungkinkan pelanggan membeli kopi di Jakarta namun memberikan kode unik pengambilan kepada kerabat di kota lain, seperti Medan, secara instan di gerai fisik. Lebih jauh lagi, mereka memanfaatkan teknologi Geofencing untuk mengirimkan notifikasi push berbasis lokasi secara real-time. Saat pelanggan melintas di dekat gerai, sistem secara otomatis mengirimkan penawaran khusus yang hanya berlaku pada jam tersebut. Strategi cerdas ini berhasil menciptakan siklus interaksi yang mulus: menarik perhatian konsumen di dunia fisik, mengonversinya menjadi transaksi digital, dan mengakhirinya dengan pengambilan produk secara fisik (Click & Collect). Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan frekuensi transaksi, tetapi juga memperkuat loyalitas pelanggan melalui kenyamanan yang benar-benar berpusat pada kebutuhan individu di mana pun mereka berada.

Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Omnichannel

Pandemi COVID-19 bertindak sebagai katalisator raksasa yang mengakselerasi adopsi omnichannel hingga beberapa tahun lebih cepat dari proyeksi awal. Di Amerika Serikat, lonjakan penggunaan e-commerce memaksa 20–30% bisnis bahan makanan berpindah ke sistem daring sebuah lompatan masif dibandingkan angka pra-pandemi yang hanya menyentuh 3–4%. Menariknya, perubahan perilaku ini tidak bersifat sementara, melainkan telah menjadi norma baru yang permanen. Konsumen kini menganggap fitur seperti curbside pickup, buy online pick up in store (BOPIS), hingga self-checkout sebagai standar kenyamanan yang wajib ada. Faktanya, sekitar 70% konsumen yang baru mencoba fitur self-checkout selama pandemi menyatakan komitmen mereka untuk terus menggunakannya di masa depan. Fenomena ini membuktikan bahwa efisiensi dan kendali atas pengalaman belanja kini menjadi prioritas utama bagi pelanggan. Bagi brand, data ini adalah pengingat krusial bahwa strategi yang lahir dari masa krisis kini telah bertransformasi menjadi ekspektasi dasar yang akan terus mendominasi lanskap pasar di tahun 2026.

Standar Penjualan B2B adalah Omnichannel

Evolusi omnichannel kini telah melampaui batas-batas sektor ritel konvensional dan merambah ke industri yang jauh lebih kompleks serta terikat regulasi ketat, seperti layanan kesehatan. Di sektor teknologi medis, transformasi ini terlihat dari pergeseran model interaksi dengan tenaga kesehatan (nakes). Perusahaan medis tidak lagi hanya mengandalkan kunjungan sales representative secara tradisional yang seringkali memakan waktu. Sebaliknya, mereka kini mengadopsi model penjualan hibrida yang sangat integratif. Strategi ini memadukan kekuatan pemasaran digital, portal e-commerce khusus untuk pemesanan alat kesehatan, hingga tim inside sales yang siap sedia memberikan edukasi teknis secara daring. Transformasi ini memastikan bahwa informasi medis yang krusial, mulai dari spesifikasi alat hingga protokol klinis, dapat diakses kapan saja oleh para profesional medis melalui saluran yang paling efisien bagi mereka, tanpa harus menunggu jadwal pertemuan fisik.

Lebih jauh lagi, omnichannel kini telah mengukuhkan posisinya sebagai standar permanen dalam lanskap penjualan B2B (Business-to-Business) secara global. Berdasarkan survei mendalam dari McKinsey & Company, sebanyak 94% pengambil keputusan di sektor B2B kini menilai bahwa pendekatan omnichannel memiliki tingkat efektivitas yang sama, bahkan lebih tinggi, dibandingkan metode konvensional sebelum masa pandemi. Perubahan ini didorong oleh tuntutan akan fleksibilitas dan kecepatan akses informasi.

Data menarik lainnya menunjukkan bahwa pelanggan B2B modern kini rata-rata menggunakan lebih dari 10 saluran berbeda untuk berinteraksi dengan pemasok mereka sepanjang perjalanan pembelian mulai dari riset melalui situs web, diskusi via LinkedIn, hingga negosiasi melalui aplikasi pesan instan atau panggilan video. Hal ini membuktikan bahwa kompleksitas transaksi bisnis tidak lagi menjadi penghalang bagi digitalisasi. Justru, integrasi lintas saluran menjadi kunci untuk menyederhanakan proses pengadaan yang rumit, membangun kepercayaan melalui transparansi data, dan mempercepat siklus penjualan di era yang menuntut efisiensi total ini.

Mengapa Strategi Omnichannel Menjadi Urgensi Utama di Tahun 2026?

Di tengah ledakan teknologi periklanan yang terus berevolusi dan pergeseran perilaku konsumen yang semakin sulit ditebak, strategi pemasaran tidak lagi bisa dijalankan dengan metode “pukul rata”. Membangun strategi omnichannel yang terintegrasi kini menjadi kebutuhan eksistensial bagi brand. Tantangan utamanya bukan lagi sekadar hadir di banyak platform, melainkan bagaimana menyampaikan pesan yang relevan, kontekstual, dan sangat personal kepada audiens, di mana pun titik sentuh interaksi mereka berada. Tanpa integrasi, sebuah brand hanya akan menjadi kebisingan di telinga konsumen; namun dengan omnichannel, brand bertransformasi menjadi solusi yang hadir tepat di waktu yang dibutuhkan.

Alasan pertama mengapa omnichannel begitu krusial terletak pada konsistensi identitas. Di era digital yang terfragmentasi, konsumen seringkali terpapar pada pesan yang kontradiktif antara satu saluran dengan saluran lainnya. Strategi omnichannel hadir untuk memastikan bahwa narasi, nilai, dan penawaran brand tetap sinkron baik itu di layar kecil smartphone, melalui asisten suara di rumah, hingga papan reklame digital di jalan raya. Konsistensi ini bukan sekadar masalah estetika visual, melainkan fondasi utama dalam membangun kepercayaan (trust). Ketika pelanggan menerima informasi yang seragam di seluruh kanal, persepsi mereka terhadap keandalan brand akan meningkat secara signifikan.

Kedua, kepentingan omnichannel berakar pada penciptaan pengalaman pelanggan (Customer Experience) yang superior. Dalam lanskap ekonomi modern, produk yang bagus tidak lagi cukup; pengalamanlah yang kini menjadi komoditas utama. Interaksi yang konsisten dan mulus di berbagai kanal menciptakan kepuasan emosional yang mendalam. Bayangkan seorang pelanggan yang memulai pencarian produk di media sosial, mendapatkan jawaban instan melalui chatbot WhatsApp, dan menyelesaikan pembelian di toko fisik dengan semua preferensinya yang sudah tersimpan secara otomatis. Pengalaman positif yang minim friksi seperti ini tidak hanya meningkatkan peluang konversi jangka pendek, tetapi juga memperpanjang Customer Lifetime Value (CLV). Pelanggan yang merasa dimudahkan cenderung akan menjadi advokat loyal yang memasarkan brand Anda secara sukarela.

Ketiga, dari sisi efisiensi operasional, omnichannel memberikan kesempatan emas bagi brand untuk melakukan penargetan yang presisi di waktu yang tepat. Dengan data yang terintegrasi, pemasar tidak lagi membuang anggaran untuk iklan yang tidak relevan. Sebaliknya, mereka dapat menjangkau pelanggan tepat saat pelanggan tersebut berada di fase pertimbangan (consideration) dalam siklus pembelian. Jangkauan yang lebih akurat ini secara otomatis mengoptimalkan pengeluaran media, mengurangi pemborosan biaya iklan (ad waste), dan pada akhirnya mendongkrak Return on Investment (ROI) secara dramatis. Di tahun 2026, efisiensi bukan lagi tentang memotong biaya, melainkan tentang mengalokasikan setiap rupiah pemasaran ke titik interaksi yang paling menghasilkan konversi.

Akhirnya, kita harus menyadari bahwa omnichannel adalah jembatan yang menghubungkan ekspektasi konsumen dengan kapabilitas teknologi. Dengan memahami betapa vitalnya pendekatan ini dalam menjaga relevansi, kepuasan, dan profitabilitas, langkah selanjutnya bagi setiap pemilik merek adalah menyusun peta jalan eksekusi yang nyata. Transisi dari pemasaran tradisional menuju ekosistem yang sepenuhnya terintegrasi memang menuntut perubahan pola pikir dan infrastruktur. Namun, di balik kerumitan teknis tersebut, terdapat peluang besar untuk mendominasi pasar. Mari kita bahas lebih dalam mengenai langkah-langkah strategis dan taktis dalam membangun arsitektur omnichannel yang efektif dan adaptif untuk masa depan bisnis Anda.

Cara Membangun Strategi Omnichannel yang Efektif

Membangun strategi omnichannel bukan sekadar menghadirkan banyak channel, tetapi tentang menciptakan pengalaman pelanggan yang terhubung, konsisten, dan relevan di setiap titik interaksi. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan fondasi yang kuat serta pendekatan terintegrasi lintas channel dan tim. Setiap channel baik online maupun oLline harus saling mendukung dan bekerja secara kolaboratif. Secara umum, terdapat lima tahapan utama dalam membangun strategi omnichannel yang efektif: pengumpulan insight, analisis data, segmentasi audiens, penguatan aspek logistik, serta pengujian dan optimasi berkelanjutan.

Langkah 1: Riset dan Pengumpulan Insight

Strategi omnichannel yang kuat selalu dimulai dari pemahaman mendalam terhadap pelanggan. Sebelum merancang komunikasi yang customer-centric, brand perlu mengetahui secara detail bagaimana pelanggan berinteraksi dengan brand saat ini dan apa yang mereka butuhkan.

Langkah awal dapat dimulai dengan melakukan evaluasi internal terhadap seluruh channel yang dimiliki. Brand perlu “menjadi pelanggan” dengan cara menjelajahi website, melakukan proses pembelian, mencoba layanan chatbot, hingga merasakan alur customer journey dari awal hingga akhir. Dari proses ini, brand dapat mengidentifikasi apakah pengalaman tersebut terasa mulus, konsisten, atau justru menyimpan hambatan yang berpotensi menurunkan kepuasan pelanggan.

Selain itu, pengumpulan insight eksternal juga sangat penting. Brand dapat memanfaatkan survei Voice of Customer (VOC), ulasan pelanggan, wawancara, atau focus group discussion untuk menangkap opini pelanggan secara langsung. Masukan ini membantu brand memahami persepsi pelanggan secara objektid apa yang sudah berjalan baik, apa yang perlu diperbaiki, dan ekspektasi mereka ke depan.

Tak kalah penting, insight internal dari tim operasional juga perlu dikumpulkan. Berinteraksi dengan tim email marketing, customer service, hingga staf toko fisik akan dibnerikan sudut pandang praktis terkait tantangan dan peluang di masing-masing channel.

Langkah 2: Analisis Data secara Mendalam

Insight yang terkumpul perlu diolah menjadi dasar pengambilan keputusan. Pada tahap ini, brand harus menerjemahkan data menjadi insight yang actionable dengan tetap menempatkan pelanggan sebagai pusat analisis.

Penting untuk menghindari asumsi berbasis pengalaman pribadi. Brand perlu melihat data secara objektif dan menyeluruh agar dapat memahami pola perilaku pelanggan yang sebenarnya. Fokus utama analisis adalah mengidentifikasi kebutuhan, pain points, dan ekspektasi pelanggan di setiap tahap perjalanan mereka.

Langkah 3: Segmentasi dan Personalisasi Pesan

Setelah memahami perilaku dan kebutuhan pelanggan, brand dapat mulai memetakan customer journey dan melakukan segmentasi audiens. Strategi omnichannel memungkinkan brand menyampaikan pesan yang lebih relevan dan personal sesuai karakteristik masing-masing segmen.

Dengan pemetaan ini, brand dapat menentukan channel apa yang paling efektif, pesan apa yang paling relevan, serta kapan waktu terbaik untuk berkomunikasi dengan pelanggan.

Langkah 4: Perkuat Aspek Logistik dan Eksekusi

Selain strategi besar, detail operasional juga menentukan keberhasilan omnichannel. Konsistensi tone komunikasi, kemudahan akses bantuan, hingga proses pembayaran yang sederhana menjadi elemen krusial dalam menciptakan pengalaman yang seamless. Ketidaksinkronan kecil antar channel dapat berdampak besar pada persepsi pelanggan.

Langkah 5: Uji, Ukur, dan Optimalkan Secara Berkelanjutan

Tahap akhir adalah memastikan strategi omnichannel terus berkembang. Melalui pengujian rutin, pengukuran performa, dan optimasi berkelanjutan, brand dapat menyempurnakan pesan, channel, dan alokasi anggaran. Pendekatan ini memungkinkan brand membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan sekaligus memaksimalkan return on investment (ROI).

Di Simetrie.id, kami membantu brand membangun strategi omnichannel yang terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada pengalaman pelanggan. Kami percaya bahwa omnichannel bukan sekadar hadir di banyak channel, melainkan memastikan setiap titik interaksi online maupun oLline yang terhubung secara konsisten dan relevan.

Melalui pendekatan end-to-end, Simetrie.id mendampingi brand mulai dari riset dan pengumpulan insight pelanggan, analisis perilaku berbasis data, segmentasi audiens, hingga perancangan customer journey yang terpersonalisasi. Kami juga memastikan aspek eksekusi dan logistik berjalan selaras, mulai dari konsistensi pesan, tone komunikasi lintas channel, hingga optimalisasi proses konversi. Seluruh strategi kami dirancang untuk terus diuji, diukur, dan dioptimalkan secara berkelanjutan agar brand tidak hanya meningkatkan engagement, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan serta memaksimalkan ROI. Kalau brand kamu ingin tahu bagaimana strategi omnichannel bisa meningkatkan engagement, konversi, dan ROI secara nyata, #KreatifnyaSimetrie siap jadi partner diskusinya.

Daftar Pustaka :

https://www.mckinsey.com/featured-insights/mckinsey-explainers/what-is-omnichannel-marketing#

https://onedialglobal.com/blog/trends-in-omnichannel-marketing-campaigns-for-2026

https://advertising.amazon.com/library/guides/omnichannel-marketing#7

https://bbs.binus.ac.id/gbm/2020/04/22/konsep-omnichannel-marketing/

https://business.adobe.com/blog/basics/omnichannel-marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kirim Pesan
Segera hubungi bila ingin ditanyakan?